Friday, 7 October 2016

Pentingnya Semangat Belajar Pada Anak

Belajar merupakan proses yang tak henti-hentinya dilakukan oleh manusia dalam menambah pengalaman dan ilmu pengetahuannya tentang sesuatu yang baru dilihatnya. Apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini yang memudahkan setiap orang menggali informasi dalam bentuk ilmu pengetahuan baik itu melalui pendidikan formal maupun non formal. Namun kesemuanya itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing orang untuk mau belajar dan menambah ilmu pengetahuannnya. Disinilah dibutuhkan yang namanya semangat belajar karena tanpa adanya semangat yang tumbuh dari dalam diri maka sebesar apapun motivasi yang ia dapatkan dari luar tak akan berpengaruh bagi dirinya untuk mau belajar. Semangat belajar dapat ditumbuhkembangkan melalui pola kebiasaan yang diajarkan dirumah dan sejak dini. Anak-anak yang dibiasakan membaca sejak kecil maka kelak ia akan menjadi seorang pembaca aktif sehingga pola pikir dan wawasannya terus berkembang. 


Semangat belajar dapat pula ditumbuhkan melalui pendidikan-pendidikan formal mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pada tahap PAUD ini metode pembelajaran dititik beratkan pada pendidikan perkembangan motorik anak untuk merangsang pola pikir anak dalam mengembangkan kreatifitasnya untuk memperoleh kemampuan dan keterampilan yang melibatkan penggunaan tangan (seperti menggambar), penggunaan tungkai (seperti berlari). Keterampilan motorik didapat tidak cukup hanya dengan latihan dan praktek, tetapi juga memerlukan kegiatan Perceptual Learning  (Belajar berdasarkan pengamatan) dan Sensory-Motor Learning (Belajar keterampilan indrawi-jasmani). 

Pada prinsipnya manusia adalah makhluk pembelajar. Ini dapat diilihat ketika seseorang masih bayi, bagaimana ia mulai belajar proses miring, tengkurap, merangkak dan berjalan sampai dengan berlari. Hal ini dilakukannya melalui proses belajar yang sudah tumbuh sejak ia masih bayi.

Kelangsungan dan keberhasilan dalam proses belajar mengajar bukan hanya didapatkan dari faktor intelektual saja, melainkan juga faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang salah satunya adalah kemampuan seseorang untuk memotivasi dirinya. 

Berikut ini merupakan sumber-sumber yang didapatkan oleh seseorang dalam pengembangan semangat belajar :

Dimulai dari orang tua

Tidak dipungkiri bahwa waktu seorang anak banyak dihabiskan dengan orang tuanya terutama sang ibu. Jadi Anda sebagai orang tua harus memulai mengubah hal-hal buruk yang mungkin bisa menjadi contoh yang kurang baik untuk anak. Contohnya, Anda meminta mereka untuk belajar tapi Anda malah asyik melihat sinetron. Tidak mungkin anak akan memiliki semangat belajar karena Anda sudah memberi contoh yang kurang baik. Hindari juga memerintah dengan kata yang kasar atau kekerasan fisik seperti mencubit. Hal itu bukan memberikan efek baik tapi anak malah trauma dan membuatnya menjadi pribadi yang pendiam dan tidak percaya diri.

Ajaklah anak untuk belajar dengan cara yang baik. Lebih baik lagi jika Anda mendampinginya dan mengajarkan dengan cara yang menyenangkan. Di usia ini, anak masih dengan dunia permainan. Cobalah untuk mengajak mereka belajar tapi dibalut dengan permainan. Sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang belajar melainkan sedang bermain.
 

Aktifitas di Sekolah

Ketika anak pulang dari sekolah, cobalah tanyakan apa aktivitas yang membuat dia senang ketika di sekolah. Otomatis anak akan bercerita mengenai kegiatan apa saja yang membuatnya senang hari itu. Dengan mengajak anak bercerita hal-hal positif ini, akan menanamkan ke jiwa anak bahwa sekolah merupakan tempat yang menyenangkan.

Selain itu, mengajak mereka bercerita juga membuat daya ingat mereka cukup bagus. Bisa jadi dengan aktivitas bertanya yang cukup simpel ini, membuat anak memiliki hobi bercerita. Tidak hanya bercerita kepada Anda dan keluarga, mereka bisa bercerita di hadapan banyak orang. Hal ini bisa menumbuhkan bakat anak yang dapat membuat mereka menjadi anak yang percaya diri dan tidak minder.
 

Sugesti Positif

Sugesti positif yang diberikan kepada anak, saat mereka tidur adalah waktu yang tepat. Ketika anak akan tidur, biasanya ibu akan membacakan cerita terlebih dahulu. Ketika anak sudah terlelap di alam mimpi, bisikkan di telinga mereka bahwa belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan, tidak kalah menyenangkan dengan aktivitas bermain. Sugesti ini memang diberikan kepada anak dalam posisi tidur. Tapi kata-kata yang dibisikkan ini dapat direkam oleh otak dan masuk ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Apalagi mengucapkannya dengan penuh kasih sayang, maka tanpa mereka sadari sugesti itu masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

Pemberian Penghargaan

Poin ini hampir sama dengan pemberian sugesti ketika anak dalam kondisi sadar. Ketika anak melakukan apapun, berikanlah penghargaan. Misalnya kalimat “kamu hebat” dengan nada bangga. Jika mereka melakukan kesalahan seperti nilai yang buruk, hindari untuk langsung memarahinya. Berikan pengertian bagaimana kalau nilai mereka terus buruk. Pembicaraan dari hati ke hati, akan membuat anak merasa dihargai dan merasa nyaman untuk berbicara kepada orang tua. Karena banyak anak yang tidak mau bercerita kepada orang tuanya disebabkan oleh orang tua tidak memberikan rasa nyaman untuk mereka.

  

0 comments:

Post a Comment